YOSSILIA

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
UJIAN PERTAMAKU SEBAGAI TRAINER MG

UJIAN PERTAMAKU SEBAGAI TRAINER MG

Mendapatkan undangan dari kementrian pendidikan dan kebudayaan, sebagai calon instruktur nasional menulis buku. Ada perasaan bangga dan terharu atas terpilihnya saya diantara 17 orang. Undangan pemanggilan peserta saya terima melaui email pada 2 maret 2018.

Sebagai seorang guru, tentunya saya melaporkan surat pemangilan peserta kepada kepala sekolah. Kepala sekolah mengizinkan untuk berangkat tetapi tak berani untuk membuatkan surat tugas.”Pelatihan yang meninggalkan provinsi sebaiknya harus minta surat tugas dari kepala dinas pendidikan,” ucap kepala sekolah.

Tanpa berfikir panjang, sayapun langsung menuju rumah salah seorang pegawai dinas pendidikan yang tinggal sekampung dengan saya. Meminta bantuan untuk pengurusan surat tugas.

Punya keluarga di MediaGuru. Salah satunya bunda Ari Pudjiastuti yang siap membelikan tiket keberangkatan dan tiket kepulangan. Bahkan proses cek in pun semua dibantu oleh bunda Ari Pudjiastuti. Tentunya saya memanfaatkan penerbangan maskapai garuda, karena ini menggunakan uang Negara. Wih sombong nya.

Surat tugas dan SPPD pun dikantongi, membuat saya melangkah pasti menuju arena pelatihan berlokasi di PPPPK Penjas-BK Parung Bogor.

Pukul 05.30 WIB menuju bandara Sultan Sarif Qasim. Sampai di bandara langsung menuju ruang tunggu. Penerbangan pukul 08.30 WIB menuju bandara Soeta. Perjalanan yang nikmat tanpa delay. Jarang sekali saya menikmati penerbangan bersama maskapai penerbangan garuda. Karena biaya pelatihan selama ini yang saya ikuti berasal biaya dari kocek sendiri.

Dari bandara Soeta menuju lokasi pelatihan, memerlukan waktu tempuh sekitar 2 jam. Satu-satunya transportasi yang harus saya gunakan adalah menggunakan taksi. Saya ngak perduli biaya yang dikeluarkan, yang penting saya cepat sampai ke lokasi. toh nanti biaya juga diganti saat di lokasi.

Tugas yang diberikan pempred MediaGuru kepada calon trainer membuat saya panik, dag dig dug. Tugas yang diberikan berupa powerpoint tentang motivasi menulis, teknik menulis, dunia penerbitan, gurusiana dan artikel yang bertemakan “apa yang harus saya lakukan seandainya menjadi insruktur nasional sagu sabu.

Diantara tugas yang diberikan sebelum sampai lokasi dan akan ditagih. Saya sudah menyiapkan tiga tugas. Walaupun itu masih ngawur. Yang penting saya membuat, yang salah itu jika saya tidak membuat.

Sesampainya dilokasi PPPPK Penjas-BK, saya langsung tuntaskan dua tugas powerpoint lagi. Perasaan panik bercampur gemetar dengan irama dangdutan, muncul lagi saat pempred mengadakan breefing dengan kami calon trainer. Nanti akan ada sesi peer teaching dihadapan calon trainer, ada sebagian peserta berasal dari perwakilan setiap PPPPTK yang ada.

Selama kegiatan berlangsung, kami ditempa dengan tugas yang menjadi bekal kami sebagai trainer sagu sabu. Kegiatan berlangsung dari pukul 08.00 – 23.30 WIB. Sangat membutuhkan stamina dan menguras energi berfikir. Atmosfer motivasi menulis yang disampaikan CEO MediaGuru sangat memukau semua peserta. Belum lagi seputar dunia penulisan yang disampaikan oleh pempred MediaGuru, akan menambah bekal bagi para calon trainer sagu sabu yang diusung oleh kemdikbud.

Hari kedua kegiatan yaitu peer teaching, sesuai urutan tampil yang telah ditetapkan oleh pempred. Kami patuh dan pasrah dengan urutan yang telah diberikan. Mulailah penampilan pertama dengan action dari salah satu peserta termuda yaitu Syaiful Rahman.

Satu persatu pemapilan telah dilakukan. Tetapi tetap saja ada grogi dan gemetaran. Apalagi mesti tampil dihadapan CEO dan pempred MediaGuru. Hal ini mengingatkan saat saya PPL sewaktu dibangku kuliah, walaupun itu hanya berhadpan dengan peserta didik. Tetap saja grogi karena ada pamong yang duduk di belakang yang ikut menilai gerak gerik kita saat tampil.

Usai kegiatan pelatihan, yang di prediksi lebih awal selesai dibandingkan dengan jadwal yang telah ditetapkan. Mamanfaatkan waktu yang masih tersisa, kami menuju ke Jakarta tepatnya di cipete lokasi dari kafe literasi.

Melepas lelah di kafe literasi, sambil menikmati suguhan yang diberikan uni yuli. Waktu berkumpul bersama keluarga MediaGuru di kafe literasi terasa sangat singkat. Hingga berlalu menjelang zuhur sambil menikmati nasi bungkus masakan padang yang luar biasa nikmatnya. Pedas yang menjadi khas masakan padang, membuat saya kangen dengan maskan saya sendiri. Jujur, selama pelatihan sangat bermasalah dengan makan, karena masakan yang ada nuansa manisnya.

Usai zuhur, kami pun bubar menuju tujuan masing-masing. Karena penerbangan saya ke Pekanbaru masih lama. Saya dan kak jur mengambil kesempatan ini untuk jalan dan shoping ke thamrin city. Dengan membawa kopor dan beberapa tentengan, akan membuat saya kesulitan untuk di dalam arena belanja. Ternyata ada jasa penitipan barang, meskipun harus merogoh kocek sebanyak Rp.20.000.

Eksekusi mulai dilakukan dari toko ke toko. Tentunya tujuan emak-emak adalah toko fashion. Berlanjut terus hingga di temukan yang cocok dengan selera. Dengan memanfaakan uang pesangon yang diperoleh saat pelatihan, hanya dapat satu kantong.

Tanpa terasa sudah menunjukkan pukul 15.00 WIB. Saya pun bersegera keluar dan mencari taksi, karena tidak memiliki aplikasi grab. Perkiraan waktu yang telah diprediksi dengan segala kemacetan Jakarta sudah matang dalam perhitungan. Tak perduli berapa biaya transportasi yang tertera di agro taksi. Di perjalanan menuju bandara tiba-tiba jalur tol yang terdekat, ternyata ditutup karena ada pejabat yang lewat. Terpaksa satu jalur digunakan, semua tertumpu di jalur tersebut. Mengakibakan jalan mobil hanya bergeser demi geseran. Tentunya memakan waktu tiga kali lipat dari biasanya, begitu juga agro menjadi berlipat.

Sesampai di bandara, langsung mengeluarkan uang biaya taksi. Tak perduli lagi berapa kembaliannya. Sekuat tenaga berlari dengan satu kopor ditangan kanan dan dua kantong tentengan di tangan kiri serta satu tas ransel dipundak. Cek in sudah dibantu oleh bunda Ari Pujiastuti. Langsung menuju bagasi.

“Maaf mbak ngak bisa lagi kopornya di letakkan ke bagasi”.

Kami berdua semakin tersengal-sengal langsung lunglai dan mandi keringat. Tapi petugas cek in tetap menyuruh kami untuk lanjut menuju gate 13. Untuk memperlaju langkah, kami membuka sepatu dan berlari kencang ibaratnya seorang atlit lari yang sedang bertanding.

“Waduh mbak sudah beberapa kali namanya dipanggil, kenapa ngak muncul”.

Dengan napas tersengal seperti seorang yang sudah kehabisan oksigen. Barang entengan yang di pegang dari tangan ikut terjatuh ke lantai. Semakin lunglai dan mandi keringat bahkan air mata pun jauh kedalam.

“Gimana mas, apa ngak bisa bantu kami dan apakah tidak ada solusinya?”.

“Ngak ada mbak. Maaf kalau ini saya ngak bisa bantu karena pesawat sudah mundur”.

Dalam pikiran saya yang kuno ini “apa ngak bisa ya pesawatnya maju lagi”.

Petugas hanya menyarankan agar kami menghubungi custamer cervice. Lemas badan saat berlari tadi belum hilang, sudah harus naik lagi ke lantai dua. Rasanya mau pingsan. Salahnya ngak ada kasur ditempat itu.

Dengan langkah lunglai saya dan kak jur berjalan menuju customer service. Solusi yang diberikan hanya bisa pindah penerbangan keesokan hari dengan menambah biaya sebesar Rp. 764.000. Kami semakin terperangah mendengar biaya yang lontarkan.

Selain itu ada alternatif lain yaitu pindah maskapai penerbangan. Ribetnya pengurusan yang mesti pindah terminal dan mulai lagi dari awal untuk booking tiket. Karena sudah kecemplung terpaksa harus merogok kocek sebesar yang telah ditetapkan. Musband hotel menjadi salah satu solusi tempat kami menginap menjelang pukul 06.00 WIB .

Tas dan tentengan digelar dalam musband hotel. Setelah melepaskan segala keletihan saat berlari tadi. Saya segera untuk shalat isya. Alhamdulillah segala kepanikan sudah hilang. Laptop dan segala perangkat pendukung dikeluarkan dari tas ajaib seorang trainer. Jemari lentikpun menari diatas keyboard laptop yang sudah mulai using dimakan usia, karena nyawa laptop tergantung pada infus listrik.

Tanpa terasa ternyata perutpun mulai lapar. Saya dan kak jur keluar dari musband untuk mencari makanan yang bisa mengganjal sementara. Dengan meninggalkan tas dan tentengan bahkan laptoppun di tinggalkan.

Salah satu petugas menyarankan

“ tasnya dibawa saja mbak. Takutnya terajadi sesuatu”.

“Kami ngak kuat mas, biar saja lah tas dan barang itu inggal di musband. Kan ada CCTV”.

Saya dan kak jur pun mulai mengeksekusi makanan yang dipesan untuk segera menempati posisinya di lambung. Dengan bersegera kami menghabiskan hasil eksekusi, karena teringat barang yang tertinggal di musband hotel.

Matapun tak mau dipejamkan, akhirnya kami buka kembali lapop dan melanjutkan tarian indah dengan lentiknya jemari diatas keybord, sehingga tak terasa sudah menunjukkan pukul 24.20 WIB.

Pengalaman ini menjadi pelajaran dan ujian sebagai seorang trainer yang sangat berharga, karena kemacetan di Jakarta sulit untuk diprediksi. Seharusnya saya literat dan tanggap dengan kondisi Jakarta yang macet pada jam kerja. Semua ada hikmahnya. Ujian pertamaku menjadi trainer, berawal dari usainya dinobatkan sebagai trainer MediaGuru. Semoga ini menjadikan saya lebih amanah lagi dalam mengemban tugas.

Bismillah.

Jakarta (musband hotel), 15 Maret 2018

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Komentar

Luar biasa. Ikut deg-degan membacanya, hehe. Keren

16 Mar
Balas

Lebih dahsyat saat lari dengan kecepatan maksimal, deg deg gan untuk ngak pingsan

16 Mar

Saya kok jadi ikut ngos-ngosan ya bibi. Jantung ikut berdebar juga. Tulisan semakin dahsyattttt, mantappppp

16 Mar
Balas

Jantung bibi copot sofi, sambil nenteng sepatu, dan nyeker di bandara ternama, trainer harus pasang muka tembok dan gokil juga

16 Mar

Saya membayangkan lari dari gate ke gate bawa banyak tentengan. Luar biasa

16 Mar
Balas

Kalau seandainya bisa di putar vidio nya pasti saya nonton dan ngakak guling-guling

16 Mar

Masih untung berdua

16 Mar
Balas

Untung ngak seluruh trainer MG

16 Mar

Perjalanan yang membutuhkan nafas panjang dan stamina yang strong. Percaya lah semua akan berbuah manis.

16 Mar
Balas

Alhamdulillah bun, semua ada hikmahnya

16 Mar

Awal dari sebuah kesuksesan...sangat inspiratif...salut tingkat dewa buat kedua trainer sagusabu Riau.

16 Mar
Balas

Bundooo..

16 Mar

Awal dari sebuah kesuksesan...sangat inspiratif...salut tingkat dewa buat kedua trainer sagusabu Riau.

16 Mar
Balas

Awal dari sebuah kesuksesan...sangat inspiratif...salut tingkat dewa buat kedua trainer sagusabu Riau.

16 Mar
Balas

Awal dari sebuah kesuksesan...sangat inspiratif...salut tingkat dewa buat kedua trainer sagusabu Riau.

16 Mar
Balas

Sukses selalu bu Yossi...aamiin

16 Mar
Balas

Sukses selalu bu Yossi...aamiin

16 Mar
Balas

Waduh yang baca jg ikutan deg de gan, mau copot jantungnya dan ngerasain ngos-ngosan saat lari.pingin cepet kasih spirit. "Ayo laju lagi larinya. Cepat-cepat." Apalah daya, akhirnya...Selamat buat temanku semoga sukses selalu. Salam literasi.

16 Mar
Balas

Kaki dangdutan mbak dan jantung rock and roll

16 Mar

Smg sukses sll bu, pengalaman yg luar biasa.

16 Mar
Balas

Luar biasa untuk orang luar biasa Bunda

16 Mar
Balas

Biasa di luar

16 Mar

Luar biasa bunda, perjuangannya. Sukses selalu ya bunda?

16 Mar
Balas

hebat....bunda.salam kenal

16 Mar
Balas

Salam kenal kembali bunda

16 Mar

Pengalaman yang sangat inspitarif.. Sukses selalu bun.. Salam kenal.

16 Mar
Balas

Salam kenal juga

16 Mar

Bergabung bersama komunitas Guru Menulis terbesar di Indonesia!

Menulis artikel, berkomentar, follow user hingga menerbitkan buku

Mendaftar Masuk     Lain Kali